Sekilas Sejarah Baranuri
Foto Baranuri. Dilukis kembali oleh : Drs.
Pua Mochsen. Lukisan ini diilhami beliau berdasarkan potret asli dari buku “ verslag eener reis in du Timorgroep en
Polynesie. Tijhcraft van het koninklijk Nederlandsch Aardrijkskuninjk
Genooschap, XI, Plate 9.1 – from H.F.C. ten Kate (1894).
Baranuri atau lebih dikenal dengan Bhara Nuri atau Bara Noeri,
menurut makna suku kata penduduk Ende, berasal dari 2 suku kata “ Noezi”
dan “Bhara”.
Noezi atau Nuzi berarti bintik-bintik merah di kulit, sedangkan Bhara berarti putih.
Memang beliau berkulit putih dengan bintik-bintik merah di kulitnya.
Baranuri ini, adalah seorang atangga’e (pembesar) di Ende. Yang
lahir dan hidup di Ende. Sejarahnya dapat anda lihat di buku sejarah MULOK yang
sedang dipelajari di sekolah-sekolah di Kabupaten Ende.
Sebab terjadinya Perang Baranuri
Ada 4 sebab terjadinya perang tersebut :
- Perselisihan Baranuri dengan seorang atangga’e/pembesar di Ende, dimana beliau tidak setuju pembesar itu bekerjasama dengan Belanda.
- Larangan Belanda terhadap perdagangan budak ke Sumba dan perdagangan senjata Api oleh Belanda tahun 1877, yang sangat merugikan kepentingan Baranuri sebagai pembesar di Ende.
- Campur tangan Belanda terhadap masalah perkawinannya dengan wanita dari Sumba. Dimana wanita itu dipulangkan kembali ke Sumba, dengan alasan ia tidak memiliki paspor sah dari Controleur di Sumba. hal ini membuat Baranuri marah karena tanpa sebab Belanda telah mencampuri urusan pribadinya.
- Disitanya perahu milik Baranuri oleh Asisten Residen Brugman
Perselisihan itu sempat membuat Baranuri diasingkan ke Manggarai –
kemudian ke Kupang. Pada bulan juli 1890 dia berhasil melarikan diri dan
kembali ke Pulau Flores dengan mendarat di Kampung Ngalupolo (Timur kota Ende).
Dari situlah, atas bantuan pembesar disana, kemudian dia mengumpulkan prajurit
dan menuju ke kota Ende serta membumi hanguskan ladang dan kebun kelapa di
Aembonga (salah satu kelurahan di kota Ende).
Singkat Cerita….
Pada tanggal 5 januari 1891, Residen Kupang melaporkan pada
Gubernur Jenderal di Batavia bahwa ketika dia tidak dibantu lagi oleh Raja Ende
serta sia-sianya pasukan sebanyak 1.100 orang mengepung Baranuri, maka atas
keputusan Gubernur Jenderal di Batavia dikirimkanlah 2 kapal perang Belanda JAWA
dan VAN
SPEIJCK untuk menyerbu Baranuri dari laut Ippi.
Taksiran Lokasi kedatangan Kapal JAWA dan VAN SPEIJCJK di laut
Ippi (timur kota Ende) dan arah penembakan meriam kapal ke Benteng Baranuri di
Manunggo’o. Tampak saya berdiri lurus dan sejajar dari atas benteng tersebut. Bersama dengan ditembakkannya peluru mortir dan meriam
bertubi-tubi dari laut Ippi, pada bulan Maret 1891, Belanda akhirnya berhasil
memusnahkan kampung Manunggo’o beserta bentengnya.
Batu sisa peninggalan benteng baranuri di Manunggo’o. Tampak
gambar yang saya ambil, bahwa batu itu berlubang terkena serangan bombardir
peluru dari 2 Kapal itu.
Penangkapan Baranuri.
Peristwa penangkapan Baranuri dlakukan oleh Asisten Residen
Belanda bernama Rozet yang baru diangkat. Bermula dari permintaan
Kepala Kampung Roworeke dan Waturoga, 2 kampung yang sebelumnya bersekutu
dengan Baranuri, yang berkepentingan karena kampungnya telah mengalamai
kerusakan berat ketika dibom dari Kapal Belanda itu. Mereka meminta Baarnuri
untuk menyerahkan diri.
Atas rencana dan tipu muslihat Rozet, Baranuri
bersedia berunding. Perundingan itu diadakan di Kapal Van Speijck. Ini
dimaksudkan agar Baranuri tidak sempat lagi untuk lari dari kapal dan
menyelamatkan diri ke gunung. Sebetulnya cara yang dipakai Rozet “ kurang jujur ”
. Lebih tepatnya dikatakan sebuah “ penipuan “.
Akhirnya, sesudah perjanjian perdamaian Onekore diperoleh
secara resmi, Baranuri yang kala itu sempat dijanjikan akan dibebaskan
nantinya, pada kenyataannya diasingkan ke Kupang dan kemudian ke Jawa. Hingga
saat ini, kabar meninggalnya tidak terdengar lagi….dimana sang Pahlawan
dimakamkan…???.
**********************************
Daftar Pustaka dan Sumber Sejarah :
- Sebuah petikan dari “ Flores in the Ninteenth Century : Aspects of Dutch Colonialism on a Non-profitiable Islands” Karya Stefan Dietrich-diterjemahkan oleh : Roy Hamilton.
- Perang Baranuri – MULOK Dinas P dan K bekerja sama dengan Yayasan Servas Mario. Penulis : Dr. Servas Mario Patty.
- Drs. Pua Mochsen, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (BAPEDALDA) Kabupaten Ende. Salah satu narasumber sejarah Kabupaten Ende dan narasumber buku sejarah MULOK Perang Baranuri.
- Drs. Fransiskus Lasa, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ende. Menjadi fasilitator penerbitan buku sejarah MULOK sewaktu masih menjabat sebagai Kepala Dinas P dan K Kabupaten Ende.

Tidak ada komentar